Badai Pasti Berlalu
Badai Pasti
Berlalu
Suara adzan subuh menggema di area
tempat tinggalku, tapi mata ini tak kuat menahan kantuk semalam. Tubuh ini
serasa terlekat dengan bantal dan kasur ini. Dalam hatiku “Ayo bangun ayo
bangun” tetapi apa daya bisikan-bisikan tidur terus menggema di telingaku. “Bismillah”
kataku kencang dalam hati, mata ini seakan terang dan jernih. Tapi dimana aku?
Tempat ini bukan tempat tinggalku, aku dimana? Ada temanku sekolah menengah
pertama. “Aduh, bangun…bangun..bangun” kataku dalam hati. Tapi tetap saja
ketika aku bangun tetap ada di tempat yang berbeda dan bukan tempat tidurku.
Jari ini kugerakkan supaya aku cepat bangun, aku capek seperti ini terus. Aku
memejamkan mata dan membaca ayat-ayat yang bisa terucapkan olehku, tak lupa
bacaan ayat kursi pun tak ketinggalan bersamaku.
![]() |
| Pagi hari, fajar terbit di ufuk timur |
Aku mendengar suara adzan subuh,
tetapi untuk bangun dari tidurku ini memang tak semudah mengedipkan mata. Dalam
hatiku aku berdoa kepada Yang Maha Kuasa “Ya Allah tolong aku”. Mata ini seakan
melihat tempat tidurku yang tidak terlalu besar, banyak tempelan motivasi,
gambaran-gambaran adikku, dan bacaan-bacaan arab di ketiga sisi kamarku.
Kulihat adikku sedang melakukan sholat shubuh. Kuambil air minum yang ada pada
botol besar di sisi tempat tidurku. Kuteguk air hingga tetes terakhir.
Tanganku melesat mengambil sehelai
handuk yang ada di kursi hijau itu.
Pagi ini aku berangkat dibonceng
oleh temanku yang cantik, namanya Rafika. Dengan Varionya kami berangkat ke
tempat belajar kerja. Lokasinya tak jauh dari Sawojajar kira-kira 20 menit kami
sudah sampai.
Rumah yang tidak terlalu besar dan
tidak semegah bangunan elit di Araya. Gerbang yang berwarna biru bernomor 2,
tempat dimana aku mencari pengalaman kerja sekarang ini. Ruangan yag kutempati
pun tidak sebesar ruang kelas di sekolah hanya berukuran tiga kali tiga meter
dengan meja bundar dan kursi lipat. Selain itu disini juga ada kipas angin yang
selalu berputar-putar demi menebarkan kesegarannya pada cuaca yang tak sedingin
di musim hujan ini.
Rumah yang kutinggali untuk belajar
kerja ini tak serumah dengan pemiliknya, kami disini hanya bersama karyawan
yang lainnya dan teman PSG dari sekolah lain.
Setiap pagi hari kami menunggu
karyawanya untuk membuka pintu, aku duduk di depan gerbang, menyilakan kakiku
dan helm di tangan kananku, Rafika asyik mengobrol dengan teman PSG lainnya,
kami saling bercengkerama bila ada waktu senggang. Aku duduk termenung menunggu
kunci. Dalam hatiku bertanya “Nanti disuruh ngapain ya?”, setiap pertemuan
pasti tugasnya selalu berganti-ganti, dalam pikirku. Orang berkendara lalu
lalang di depanku.
Tepat jarum jam bertempat di angka
tengah-tengah tujuh dan delapan, kumulai aktivitasku dengan bismillah untuk
mengerjakan tugas kantor, yaitu menyedot data dari berbagai situs website yang ada. Bagianku yaitu website berita Negara Inggris.
Klik-klik, duk-duk-duk suara mouse
dan keyboard yang kutekan terdengar
berirama bak lagu yang mengisi ruanganku setiap waktu. Pesan error gagal menyedot data kadang muncul
di hadapanku. Kesal, capek, gemes jadi satu. Kurebahkan badan ini ke kursi dan
mengayun-ayunkan tangan yang capek menari-nari diatas keyboard sedari pagi. Dalam hatiku berkata “Kapan pekerjaan
menyedot data ini akan selesai? Error
terus, aku capek….”, kuambil ponsel yang ada di dalam tasku. Kulihat
pesan-pesan yang belum kubaca, dan kubalas pesan yang seharusnya kubalas.
Hiburan yang ada ketika aku sedang bosan.
| Error.. |
“Ting..”bunyi broadcast dari lan messenger,
kuklik pesannya. “Bagi yang magang di MJ2 silahkan untuk datang ke MJ13 untuk
presentasi konsep websitenya”, pesan
dari pembimbing kami, Pak Amri. Aku langsung mengambil flashdisk yang ada di dalam tasku untuk menyalin file konsep websiteku, Rafika dan Teguh pun menyalin
filenya ke flashdiskku. “Semangat teman-teman”, kataku untuk menyemangati
mereka berdua, mereka selalu tidak bersemangat ketika muncul pesan Pak Amri di
monitor laptop mereka. “Oke..aku pasti presentasi yang pertama”, Teguh menambahi.
“Sudahlah get…terima saja, semangat”, imbuh Rafika.
Jarak antara MJ2 dan MJ13 tak
terlalu jauh, sekitar 200 meter. Angin berhembus sepoi-sepoi, pohon mangga di
pinggir jalan bergoyang-goyang melambaikan daunnya. “Ayo Get, semangat..”,
sambil mendorong Teguh berjalan cepat. Laki-laki berjalan seperti kura-kura, “Semangat
get”, tambahku. Beberapa rumah besar dan mewah kami lewati, namun taka ada
keramaian yang kami dapati hanya keheningan dan suara kemrisik angina menerjang
daunan.
“Assalamualaikum”, ucap kami
bersama. “Waalaikumsalam, silahkan duduk mbak
mas”, jawab beliau. Aku mengambil kursi di depan. Aku mempersiapkan layar monitor yang akan digunakan nantinya,
kutancapkan kabel monitor ke stop kontak
yang telah disediakan. “Ayo mbak,
silahkan presentasi”, sambil menghadap ke arahku. Dalam hatiku “Kok aku, yang
lainnya kan bisa”, “Ya pak”, jawabku dengan penuh semangat. Aku langsung
menancapkan flashdisk ke port laptop, aku mempresentasikan hasil,
kerjaku dengan penuh semangat.”Loh mbak ini mana list rankingnya dari alexa.com?”, Tanya Pak Amri. Aku ya menjawab
bahwa kalau website resep atau
tentang masakan tidak masuk ke dalam 500 besar. Alangkah terkejutnya aku waktu
beliau menyalah-nyalahkan aku di depan semua teman-temanku. Tak masalah dalam
hatiku, memang salah mau bagaimanama lagi. Keberuntungan sedang tidak berpihak
kepadaku saat ini. Saat beliau sedang memarahiku seakan dunia ini berpihak
kepada beliau dan kami semua hanya diam dalam samudra keheningan.
Aku mulai teringat kejadian pekan
lalu, dimana waktu itu kami memakai seragam angkatan kami, biru. Pagi itu
temanku Ainul langsung menuju ruangan kami, dia bilang kepada Teguh mulai
sekarang tidak usah PSG lagi di UBIG. Dia menyampaikan pesan dari pembimbing
kami di sekolah. Dalam hatiku bertanya-tanya, ada apa? Mengapa?. Selama ini kan
Teguh selalu bersemangat, memang waktu kutinggalkan untuk tugas sekolah dulu
dia memang tidak sesemangat sekarang ini, tapi sekarang kami bertiga sangat
semangat sekali untuk mengerjakan PSG ini. Dia hanya bisa menjawab tidak tahu
dan bilang pokoknya harus ke sekolah sekarang. Aku sebagai teman sebangku dan
sekelasnya merasa marah atas perlakukan Ainul tadi. Bisa-bisanya dia
memperlakukan temannya begitu. Memang semenjak aku tinggalkan juga dia tidak
mau bersama dengan Rafika dan Teguh menyelesaikan masalah bersama, malahan dia
hanya diam dan mengurus dirinya sendiri, teman macam apa dia dalam hatiku.
Dengan nada sedikit kesal aku pinjam handphonenya
dan menghubungi pembimbing kami di sekolah, kami melobi-lobi beliau untuk tidak
menarik Teguh dari tempat PSG an. “Nduk,
ini sudah keputusan, bukan untuk didiskusikan lagi”, kata beliau. Ha? Ini orang
lain apa pembimbing, ditanya anak didiknya malah menjawabnya seperti itu.
Baikkah? Kami hanya ingin mengetahui penjelasan dari pihak sekolah mengenai
masalah yang terjadi sekarang ini. Bukan untuk dimarah-marahi, wajar saja kami
sebagai teman sekelasnya merasa terdapat tanda tanya besar di hadapan kami.
Aku dan Rafika WhatsApp an dengan beliau, tetapi apalah daya kami hanya seorang
anak didik, pesan kami hanya dilihat saja dan membalasnya dengan kata-kata yang
tidak sewajarnya dilontarkan oleh seorang pengajar kepada muridnya. Kami tetap
mengelak penjelasan mengenai masalah tersebut, “ting”, bunyi pesan masuk.
“Kalau sekarang Teguh tidak ke sekolah, maka akan dikembalikan kepda orang
tua”, tak lupa semua pesan itu dicapslock.
Air mata ini tak bisa kubendung, tiba-tiba mengalir begitu deras, pesan ini
kusampaikan pula kepada Teguh, dia hanya pasrah saja. Rafika mencoba
menguatkanku dia memeberikan nasehat-nasehat kepadaku dan mengajak kami untuk
ke rumah Pak Amri untuk mendiskusikannya.
Perjalanan terasa begitu cepat,
pohon-pohon di sisi jalan hanya menunduk melihat kami berjalan seperti dikejar
waktu. Kami menjelaskan kronologinya kepada Pak Amri, beliau menanggapi
permasalahan tersebut juga. Beliau mengatakan bahwa belum mengeluarkan Teguh
melainkan masih konfirmasi saja. Alhamdulillah, beban ini terasa berkurang atas
jawaban beliau. “Terus bagaimana pak, jika sekolah menariknya seperti ini?”,
tanyaku. Beliau memberikan solusi Teguh harus membuat surat pernyatan jika dia
akan bersemangat lagi dan mematuhi peraturan kantor.
Kami meninggalkan rumah Pak Amri
dengan penuh semangat dan wajah kami pun sudah berbeda daripada datang kesini
tadi. Di jalan kami disambut oleh angin sepoi-sepoi dan lambaian dari daun
pohon manga di sebelah jalan itu.
Aku langsung mengambil kertas folio
bergaris dari dalam tasku dan menyerahkannya kepada Teguh, dibantu oleh Rafika
dan referensi dari internet, dia menuliskan untaian kalimat di atas kertas itu.
Aku disampingnya hanya bisa menyemangati dan memberikan solusi-solusi untuknya.
Ruangan mulai panas, kunyalakan kipas angin di dinding itu sementara Teguh
mengirim surat kepada Pak Amri. Semoga aku, Rafika, Teguh tetap semangat dan
kompak tak lupa saling menolong saat PSG ini dan mulai PSG bertiga dan
menyelesaikannya bertiga pula.
| Succesful |

Komentar
Posting Komentar